Tampilkan postingan dengan label Cerita Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Misteri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Agustus 2013

Petualangan Dengan Kakek Gaib Penunggu Hutan Jati

Kitab Mantra - Cerita ini bermula ketika kami serombongan akan mengadakan perjalanan ziarah di makam leluhur perintis Islam di tanah jawa SUNAN KALI JAGA di Demak bintoro.

Start perjalanan kami dari Kota Surakarta karena kebetulan kami dari Keraton Solo untuk bertemu dengan seorang sahabat kami di sana. melewati salatiga oleh seorang warga agar perjalanan kami lebih dekat kami disarankan untuk melewati desa Beringin tepatnya di selatan Kota Salatiga.


Jam menunjukkan 22.00 WIB kami baru melewati sebuah hutan Letaknya setelah jembatan kali Tuntang, setelah di tanyakan melalui teman Hutan alas Ngombak masuk area wilayah Kabupaten Grobogan.
Jalan menyusuri hutan cukup panjang hingga di tengah-tengah jalan kami dikejutkan oleh seorang kakek yang menghadang jalan, kami mengira dia orang gila yang berkeliaran.
Pakaian yang di kenakan cukup bersih tidak seperti orang gila, dan ada semacam aroma parfum yang di kenakan kakek tersebut, kami berhenti sejenak dan menyapa "Sugeng nddalu mbah.. Wonten nopo..?" (selamat malam ada apa..?) sang kakek hanya menjawab dengan bahasa isyarat yang mengatakan dia ingin menumpang sampai desa sebelah.
kamipun memberi tumpangan yang kebetulan juga bangku bagian belakang masih kosong karena kami hanya berempat saja.

Kamipun melajutkan perjalanan, tak banyak bicara terlihat dari sepion depan kakek itu sibuk membersihkan blangkon yang di pakainya dari debu-debu.
Setelah cukup lama akhirnya kami menjumpai sebuah pemukiman penduduk. tepat pukul 12 malam kami sampai de sebuah desa yang ternyata bernama Desa Kedungjati. Hernan teman kami yang kebetulan sebagai Supir dalam perjalanan kami mencoba bertanya kepada kakek tadi "Mandap Pundi mbbah..?" (Turun mana mbah?) di tengoknya dari kaca sepion depan tidak terlihat sang kakek, di pikirnya kakek ter tidur.. Adi yang duduk tepat di bangku depan kakek tersebut coba menengok ke belakang.." Astagfirlloh.. Ilang Mbah'e..." (kakek hilang) kami semua terkejut, karena tidak mungkin kakek keluar karena semua pintu tertutup rapat. kami semua hanya merinding ternyata kakek tersebut bukan makhuk biasa.

Tanpa pikir panjang kami melanjutkan lagi perjalanan menuju Demak Bintoro, kira-kira 1 kilometer berjalan kami menjumpai hutan lagi, tepat di depan tanjakan kami dikejutkan ratusan kera yang menghadang jalan... kami semua panik, semua pintu mobil kami kunci rapat-rapat dan mobil kami terus berjalan perlahan-lahan
tiba-tiba juga ada 2 ekor kera yang besar menghapiri pintu dimana Herman duduk, Herman ketakutan sehingga mengganggu konsentrasi dalam menyetir mobil... Mobil sempat oling ke kanan.

Secara tiba-tiba juga semua kera berlarian menjauh termasuk 2 kera besar yang berusaha masuk, setelah semua kera hilang kami di kejutkan lagi seorang kakek yang tadi menumpang kami, terlihat kakek membawa sebatang kayu yang tadi di pake untuk mengusir kera-kera tersebut. Kami berhenti sejenak mengucapkan terima kasih pada kakek " maturnuwun mbah.." (terimakasih kek) sang kakek terdiam dan hanya menunduk sambil menyodorkan selembar Daun Jati, Herman yang duduk di depan menerimanya dan sang kakek mempersilahkan dengan isyarat tangan untuk melanjutkan perjalanan.

karena rasa takut yang masih menyelimuti Herman pun tancap Gas meanjutkan perjalanan.. aneh tapi nyata tanpa kami sadari kami sudah memasuki daerah Demak Bintoro kurang dari 1 menit, padahal jarak yang harusnya di tempuh 20km lebih, bersamaan dengan itu daun yang tadi di berikan kepada Herman juga menghilang entah kemana.

Inilah kisah perjalanan yang di luar nalar manusia dengan campur tangan mahkluk dari Dunia Gaib. ini juga bukti nyata bahwa ada dunia lain yang menjadi tetangga kita, dan ada juga mahkluk dari dunia lain yang membantu dan memperdulikan manusia.

Demikian Cerita kisah perjalanan Misteri kami, setiap perjalanan kami atau ketika kami menjumpai hal-hal yang bersifat Misteri dan Gaib kami akan berbagi disini.
Terimakasih "Mumpung masih di suasana Lebaran" kami keluarga besar Padepokan JATI ROGO menghaturkan Mohon Maaf Lahir dan Batin. Wassalam.....

Senin, 06 Mei 2013

Petualangan di Lawang Sewu Bersama Mbah Djamal


Kitab Mantra - Lawang Sewu.. Konon gedung ini memiliki sejarah yang panjang selain juga cerita mistisnya. Letaknya berada di kota Semarang. Merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Banyak diberitakan mengenai misteri penampakan dan jeritan dan tentang kegaiban di Lawang Sewu di waktu malam. Saat ini gedung ini merupakan tempat wisata sejarah meskipun banyak juga orang iseng yang menjadikannya ajang uji nyali. Gedung Lawang Sewu ini terkenal menyeramkan dan angker.

Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907, Lawang Sewu berada di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein. Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak.

Meski kenyataannya pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini juga memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT. Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.

Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Lawang Sewu yang sangat terkenal hingga manca negara akan Mistis di banding sejarahnya ini, membuat Team Rogo Jati bersama Mbah Djamal mencoba mengungkap dan menelisih kegaiban yang berada di gedung yang seakan menjadi icon mistis di Jawa Tengah.

Saat itu Jam 21.00 Malam 06/05/2013 team kami tiba di Lawang Sewu. karena sudah menjadi niat kami, kamipun memberanikan diri meminta izin kepada penjaga Gedung Lawang Sewu dan mengutarakan panjang lebar mengenahi misi dan keinginan kami untuk dapat masuk ke dalam Gedung.
Setelah melalui perundingan yang cukup panjang kamipun diperbolehkan memasuki area gedung tersebut.

Mbah Djamal menyarankan untuk masuk ke dalam melalui pintu bagian barat, baru beberapa langkah menuju pintu masuk, kami di kejutkan oleh sosok makhluk berpakaian mirip tentara serdadu belanda berdiri di samping pintu dengan wajah bengis.
kami mencoba menghiraukannya hanya Mbah Djamal saja yang mendekat seperti meminta izin untuk masuk ke ruang dalam.

Baru melanjutkan jalan kira-kira 10 langkah kami di kagetkan kali oleh sosok perempuan yang merintih-rintih duduk bersandar di salahsatu tiang dengan wajah agak menyeramkan tetapi masih terlihat wajah bule yang rusak seperti tersayat. dengan Mbah Djamal kami disuruh menghiraukan dan melanjutkan perjalanan, sepanjang perjalanan banyak sekali kami berjumpa dengan berbagai sosok atau makhluk seperti nenek-nenek, ada juga yang tampak seperti prajurit Indonesia yang hilir mudik seolah menggoda kami.

Memasuki lantai kedua kami berhenti sejenak, dipimpin Mbah Djamal kami duduk membentuk lingkaran dengan komando Mbah Djamal kami semua melakukan meditasi. Sentak saya kaget melihat salah satu rekan saya mendadak kejang-kejang dan mulutnya berguman-guman seolah marah.. ternyata Mbah Djamal sengaja mengundang salahsatu penghuni Gedung Lawang Sewu untuk masuk ke raga rekan saya yang bernama Samsuri.

Mbah Djamal mendahului mengucapkan salam dan kemudian di sambut salam oleh Samsuri yang suaranya sudah berubah seperti kakek-kakek sesekali batuk-batuk. "Nuwunsewu sakderenge.. mbok bilih kulo serombongan nggangu anggenipun lelarasan" (Mohon maaf sebelumnya apabila kami serombongan mengganggu istirahatnya...) Dengan suara membentak Samsuri yang sudah di rasuki makhluk gaib bertanya "Opo karepmu..!!" (apa maksut kedatanganmu..??) Mbah Djamal kemudian menceritakan maksut kedatangannya dan meminta untuk menceritakan asal kejadian atau sejarah Gedung Ini berikut kegaiban yang tersimpan di dalam Gedung Lawang Sewu yang terkenal cukup angker ini.

Hampir satu jam kami mendengarkan cerita Samsuri yang sudah di rasuki makhluk gaib yang ternyata di panggil Mbah Lanang, menurut penuturan Mbah Lanang dahulu sebelum di bangun Gedung tempat tersebut adalah rawa-rawa yang di huni oleh Siluman Buaya hingga sampai sekarang Mahkluk gaik berbentuk seekor buaya itupun masih sering berkeliaran di sekitar gedung ini. Dan banyak lagi sejarah pembantaian dan kejadian sadis lain yang menjadi sejarah gedung ini hingga menjadi angker.

Setelah ritual pemanggilan makhluk yang di kenal dengan Mbah Lanang tersebut selesai kami, melanjutkan perjalanan ke dalam Gedung Lawang Sewu yang terdapat sebuah ruangan yang konon dulu khusus dijadikan tempat eksekusi dengan udara yang lembab serta digenangi air setinggi mata kaki. Sungguh jelas terasa aura yang ada dalam ruangan ini, Betul seperti yang di ceritakan banyak orang di ruangan ini ada makhluk hitam yang hanya diam di sudut ruang sehingga kamipun tak mau mengganggunya.

Puas kami berkeliling-keliling dalam gedung yang sesungguhnya amatlah megah dengan bangunan yang sangat kokoh dan benar-benar terbukti menyimpan sejuta misteri dan kegaiban itu terlihat nyata. banyak pesan yang bisa kami petik dari petualangan kami bersama Mbah Djamal di gedung Lawang Sewu.

Alam kita dan alam Makhluk gaib sangatlah berbeda, namun di sisi lain kita dan mereka memiliki hak yang sama dalam memiliki sebuah tempat dan semua di tuntut untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain, untuk tidak saling mengusik atau mengganggu.

Seperti layaknya manusia jika di ganggu maka mereka akan marah. tak heran jika ada manusia yang nekad bertingkah sembarangan diluar kaidah kesopanan seperti kencing sembarangan, sedang haid atau berbicara sembarangan diarea tersebut pelakunya akan kesurupan.

Percaya atau tidak percaya Kegaiban yang ada di sekeliling kita, namun bagai mana kita menyikapi adanya tetangga yang kasap mata disebelah kehidupan kita adalah mahkluk yang perlu di hormati juga.

(by: Arif Subekan)

Selasa, 30 April 2013

Misteri Tumbal Pesugiahan Buaya Putih


Kitab Mantra - Ketika aku masih kecil, ada salah seorang tetangga kami yang hidupnya serba berkecukupan, usahanya maju, rumahnya bagus, dan uangnya banyak, saking banyaknya uang tersebut, mereka membuka usaha baru, yaitu menjadi rentenir, si lintah darat itu. Semakin hari kekayaannya semakin bertambah banyak akan tetapi hal itu berbanding terbalik dengan kekayaan hati yang dimilikinya yang kian hari kian menipis bahkan mungkin menghilang, tidak punya kekayaan hati sama sekali. Oleh karena itulah, mereka selalu membusungkan dada mereka dan menganggap tetangga mereka hanyalah lalat-lalat pengganggu sehingga tak perlu menjaga omongan kepada tetangga. Semua tetangga pernah dihinanya termasuk juga keluargaku, ayah, ibu, aku, kakak-ku, adik-ku, semuanya tidak luput dari hinaan mereka. Apalagi memang dari dulu sampai hari itu bahkan sampai sekarang, keluargaku selalu jadi bahan hinaan para tetangga. Huh, apakah itu hanya karena ibuku orang jawa? Tapi bukankah sunda ataupun jawa sama saja di hadapan Tuhan? Yang membedakan hanyalah ketakwaan saja.

Iskandar (suami), Rohaya (istri), Budi (anak tertua), Andi (anak tengah, seumuran denganku), dan Sugianto (anak bungsu), merekalah tetangga yang ku maksudkan, rumah mereka persis berada di depan rumahku. Rohaya dan Andi, kedua orang itulah yang paling keras dalam menghina dan memusuhi kami. Cacian dan hinaan mereka berdua begitu melapaui batas untuk di terima oleh manusia. Tidak jarang jika Rohaya ini lewat di depan rumah kami, dia meludahi pekarangan rumah kami dan mengejek keadaan rumah kami yang memang begitu sederhana, ia menyebut rumah kami dengan sebutan Anggar Lima. Bahkan tidak hanya itu, pernah suatu ketika aku sedang bermain sendiri di sisi jalan depan rumahku. Tiba-tiba Si Andi datang dengan membawa bambu sebesar betis orang dewasa dan langsung mengambil uang receh yang sedang aku mainkan maka aku pun berusaha untuk mengambilnya kembali sehingga terjadilah aksi tarik menarik antara aku dengannya. Ketika uang itu berhasil ku ambil, Si Andi langsung memukulkan bambu ke pundakku dengan keras hingga aku pun terjatuh. Jika saja bukan karena pertolongan Alloh mungkin aku sudah kehilangan nyawa gara-gara pukulan itu. Saat itulah, terjadi percekcokan hebat antara ibuku dengan Rohaya sehingga ibuku merasa begitu sakit hati, sampai-sampai imannya hampir luntur.

“Aduh…pak! Hati ini panas, dada ini terasa sesak, nafas ini tersengal-sengal, aku sudah tidak tahan lagi dengan hinaannya. Biarkan, biarkan aku pergi ke Cirebon atau ke Banten, aku akan santet mereka hingga mati semuanya…”, kata ibuku diiringi tangisan yang tersedu-sedu di pangkuan ayahku.
“Sabar, sabar istriku! Sabar…biarkan mereka menghina sesukanya terhadap kita. Ingatlah, Alloh pasti membalas perbuatan mereka dalam waktu dekat ini…Sabar, jika mamah pergi dan menyantet mereka maka apa bedanya kita dengan mereka? Bukankah kita jadi lebih kejam dari mereka? Sabar, Sabar, sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar…”, ucap ayahku berusaha mendinginkan amarah ibuku yang sedang memuncak.

Ayahku terus menasehati ibuku dengan kata-kata yang bijak hingga ibuku pun terlelap dalam tidur dipangkuan ayahku.
Beberapa bulan kemudian, apa yang diucapkan oleh ayahku benar-benar terjadi, Alloh benar membalas perbuatan mereka selama ini dengan balasan yang sebaik-baiknya. Usaha mereka bangkrut, rumah tangga mereka hancur berantakan, pihak bank memburu mereka karena hutang mereka, rumah bagus mereka digadaikan begitu juga tanahnya, perabotan rumah mereka semuanya diambil dan disita oleh pihak bank. Mendengar hal itu, ayahku berkata,
“Tuh, kan mah! Alloh pasti akan membalas perbuatan mereka dalam waktu dekat ini…sekarang lihatlah mereka, mereka sekarang lebih miskin dan lebih terhina daripada kita…Sungguh, mah! Alloh itu tidak akan mengingkari janji-Nya.”, komentar ayahku.
“Iya, pak! Bapak benar…”, jawab ibuku.

Beberapa minggu kemudian, datanglah Iskandar dan Rohaya untuk meminta maaf atas semua kesalahan mereka kepada keluargaku. Mereka berdua tersungkur dan menubruk ibuku, bersungguh-sungguh memohon maaf. Hati kami iba dibuatnya, tak tega kami melihat tetangga kami menghinakan dirinya di depan kami seperti itu walaupun dahulu mereka benar-benar telah menghina kami tapi hati kami tetap merasa terenyuh dibuatnya. Akhirnya, dengan berat hati, kami pun akhirnya memaafkan mereka walaupun begitu terasa berat di hati kami apalagi mengingat semua kejahatan mereka. Setelah itu, mereka berdua pergi dari kampungku guna menghindari serbuan pihak bank yang menagih hutang terus menerus kepada mereka. Kini mereka berdua telah berpisah (cerai) dan sekarang entah dimana keberadaannya, semua anaknya dititipkan kepada Ibunya Rohaya dan sekarang sudah besar bahkan sebagiannya telah berkeluarga.

Namun, ternyata ada rahasia dibalik semua kehancuran total itu. Ma Rini, yang merupakan Ibunya Rohaya menceritakan kepada ibuku perihal sesuatu yang menjadi rahasia anaknya, mengapa bisa jadi kaya dan mengapa bisa jatuh mendadak. Kisah ini hanya diceritakan kepada ibuku saja, tidak kepada yang lain. Marilah kita dengar kisah rahasia yang dibuka oleh Ma Rini tersebut :
Malam itu, Rohaya tidak bisa duduk dengan tenang, ia sedari tadi terus mondar-mandir kesana kemari dengan raut wajah seperti orang yang mencemaskan sesuatu. Aku sebagai ibunya tidak tega melihat dia seperti itu, aku pun bertanya kepadanya dengan berbisik-bisik :
“Ada apa, Neng? Kenapa kamu gelisah seperti itu? Apakah malam ini adalah waktunya?”, tanyaku penasaran karena aku mengetahui akan rahasia anakku itu.
“Nggg….”, jawabnya.
Dari jawabannya, aku mengetahui bahwa sekaranglah waktunya perjanjian itu harus dipenuhi. Tapi, aku sebagai ibunya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah karena itu sudah perjanjiannya dengan makhluk itu yang sudah disepakati bersama, tidak bisa dibatalkan sama sekali.

Iskandar, suaminya merasa curiga dengan gerak-gerik kami berdua hingga akhirnya ia pun mengintrogasi istrinya. Ia memaksa istrinya untuk berterus terang tentang apa yang sudah terjadi tetapi anakku itu tetap saja mengelak dari pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya. Hingga akhirnya, iskandar pun mulai berbuat anarkis terhadap istrinya. Dan oleh sebab itu, Rohaya pun berbicara jujur juga mengenai persekutuannya dengan setan.

“Oke, mas! Aku jujur sekarang, aku telah melakukan pesugihan kepada siluman buaya putih karena aku tak kuat hidup miskin terus menerus, aku tak mau dihinakan oleh tetangga, dan aku akan tunjukkan pada mereka bahwa aku juga bisa kaya bahkan melebihi mereka…Dan sekarang adalah malam yang telah disepakati olehku dan siluman tersebut.”, jelas Rohaya dengan nada terbata-bata dan air mata yang terburai ke pipi.
“Apa kamu sudah gila, heh! Untuk apa kamu melakukan itu semua? Apakah tak cukup nafkah dariku, suamimu ini sehingga kamu melakukan pesugihan tanpa sepengetahuanku…Dasar istri tak tahu diuntung…Cepat, sekarang katakan siapa yang dijadikan tumbalnya? Cepat katakan!”, ancam Iskandar dengan nada keras kepada istrinya sambil memegang kerah baju Rohaya.

“….anak, anak kita yang paling kecil!”, jawab Rohaya dengan gemetar dan tak henti-hentinya menangis.
“Sialan, ibu macam apa kamu ini? tega mengorbankan anaknya demi keuntungannya sendiri dan demi harta dunia yang dikejarnya…Kenapa, kenapa tidak kamu saja yang jadi tumbalnya, heh?”, bentak Iskandar dengan tangan yang dikepalkan seolah-oleh menahan amarah untuk tidak memukul istrinya.
“Demi keuntungan sendiri katamu? Bukankah kamu juga ikut menikmati kekayaan ini…”, jawab Rohaya berusaha membela diri.

“Iya, aku akui bahwa aku juga menikmatinya tapi itu semua tanpa sepengetahuanku. Jika saja aku tahu dari awal, aku tak sudi memakan harta yang kau dapatkan ini.”, jawab Iskandar dengan nafsu amarah yang menggebu-gebu.

Ditengah pertengkaran hebat itu, tiba-tiba Budi dan Andi terbangun dari tidurnya, begitu pula si kecil, Sugianto, ia merengek, menangis memanggil-manggil ibunya. Segera Rohaya menemui Sugianto dikamarnya dan memeluknya erat-erat. Iskandar pun langsung mengikuti istrinya, lalu berkata :
“Cepat katakan, kapan makhluk sialan itu akan datang? Cepat!”, ujar Iskandar kepada istrinya itu.
“Nanti, pertengahan malam!”, jawab Rohaya yang kemudian menciumi kening anak bungsunya itu.
Spontan Iskandar pun langsung menuju dapur lalu mengambil golok panjang miliknya yang sudah ia asah ketika pagi tadi dan langsung diikatkan dipinggangnya. Sedangkan aku segera meraih tangan Budi dan Andi lalu membawanya ke kamar, menyuruh mereka untuk tidur karena ini adalah urusan orangtua, anak-anak tidak boleh ikut campur. Aku berusaha menenangkan kedua anak itu dan meyakinkan mereka bahwa tidak terjadi apa-apa, ibu dan ayahnya hanya bertengkar biasa saja, nanti juga baikan lagi. Akhirnya, setelah beberapa lama kemudia kedua anak itu pun tertidur kembali dengan pulasnya. Aku pun lalu keluar kamar dan menutup pintu kamar tersebut, langsung saja aku menemui Iskandar yang dari tadi terus memperhatikan jam yang telah menunjukkan pukul 11.30 malam sambil terus menerus memegang golok panjangnya itu.
“Nak…”, sapaku dengan lemah lembut.

“Diamlah, bu! Aku sedang tak mau diajak bicara…”, jawabnya dengan tegas.
Mendengar jawabannya, aku pun langsung menuju ruang tamu, duduk disana, dan menangis sejadi-jadinya, tak bisa menahan haru di dada. Selama 30 menit lamanya, kami hanya berdiam diri, tidak ada seorang pun yang berbicara. Tiba-tiba, ditengah keheningan itu, terdengarlah suara teriakan dari kamar Rohaya, teriakan itu memecah kesunyian malam. Mendengar istrinya berteriak seperti itu, Iskandar langsung berlari menuju kamar dan mendapati seekor buaya putih besar berada di kamar itu, entah darimana datangnya dan bagaimana cara masuknya.

“Cepat, cepat bawa Sugianto keluar dari kamar, biar aku yang menghadapi makhluk sialan ini…”, ujar Iskandar sambil membuka golok panjang dari sarungnya, pantulan cahaya lampu kamar saat itu begitu tepat mengenai golok itu sehingga terlihat sangat mengkilat.
“Ghrrrrrr……Ghrrrrrrr….Ghrrrrrr….”, suara buaya putih itu berusaha untuk menggertak Iskandar.
Ekor buaya itu terus berkibas-kibas layaknya pecut yang siap untuk dipecutkan. Dan akhirnya, buaya itu pun menyerang Iskandar dengan ekornya yang panjang itu. Iskandar pun menahan serangan buaya itu dengan goloknya. Iskandar pun balik menyerang buaya itu dengan segera,
“Hyaaaa….”, teriakan Iskandar mengarahkan pukulan golok tajam itu ke arah tubuh buaya putih itu tetapi buaya itu tidak terluka sedikit pun, malah iskandar lah yang terpental hingga goloknya pun terlepas dari tangannya.

Dengan serta merta, buaya itu langsung menyerang Iskandar, ia berhasil menggigit paha Iskandar. Iskandar maraung-raung kesakitan, aku dan Rohaya hanya bisa terpaku tidak bisa berbuat apa-apa. Iskandar pun kemudian memegang mulut buaya putih yang dipenuhi gigi runcing itu dengan kedua tangannya, berusaha untuk membuka mulut buaya itu. Namun, buaya itu terus saja melawan sehingga dua jari tangan kanan iskandar pun putus dibuatnya. Iskandar berusaha lagi untuk melawan, ia berusaha menggapai golok miliknya yang terpental tadi yang tidak jauh dari tubuhnya. Setelah berhasil didapatkan, Iskandar mengayunkannya dengan tangan kiri ke kepala buaya itu hingga buaya itu terlihat kesakitan dan melepaskan gigitannya pada paha Iskandar. Dalam keadaan itu, Iskandar berusaha untuk berdiri padahal paha kirinya itu sudah terkoyak dan darah pun berkucur begitu deras, bekas gigitan buaya tadi. Setelah berhasil berdiri, Iskandar pun memegang goloknya erat-erat dengan tangan kirinya, berjaga-jaga kalau-kalau buaya itu menyerang kembali. Namun, ternyata diluar perkiraan, buaya putih itu tidak menyerang lagi, buaya itu malah menghilang bagai asap putih yang ditiup oleh angin. Ya…buaya itu telah pergi yang berarti sebagai pertanda bahwa teror telah usai dan perjanjian telah dibatalkan.

Melihat keadaan suaminya yang terluka parah itu, Rohaya memberikan Sugianto kepadaku, ia langsung menuju suaminya dan membopongnya ke luar kamar dan langsung mendudukannya di kursi sedangkan darah masih terus saja mengalir dari tangan dan juga paha Iskandar.
“Neng, cepat bawa suamimu segera ke puskesmas sebelum dia kehabisan darah…”, perintahku pada anakku.
Rohaya pun menghidupkan motornya, dan langsung membawa suaminya ke puskesmas yang memang saat itu buka selama 24 jam.

****
“Kukuruyuk…kukuruyuk…”, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, pagi pun telah tiba. Iskandar yang tadi malam dibawa ke puskesmas pun sekarang dibawa ke rumah sakit karena lukanya terlalu serius. Dan baru diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit setelah luka-lukanya kering.

Disisi lain, masyarakat kampung terus bertanya-tanya tentang keadaan Iskandar yang selama beberapa minggu ini tidak kelihatan batang hidungnya, biasanya mereka melihatnya sedang nongkrong di depan rumah. Untuk menutupi kejadian mengerikan itu, aku mengatakan kepada mereka bahwa Iskandar mengalami kecelakaan sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Aku yakinkan mereka yang hendak menjenguk bahwa luka yang dialami Iskandar tidak terlalu parah sehingga sebentar lagi pun akan segera pulang. Dan sejak saat itulah, perekonomian keluarga mulai hancur, percekcokan semakin sering terjadi antara Iskandar dan Rohaya, yah…seperti yang kamu lihat sekarang, semuanya telah hancur, semuanya telah musnah, kekayaan yang tadinya diagung-agungkan pun sekarang telah tiada, sekarang kembali seperti semula, kembali menjadi cepot lagi.

(by Iwan K)

Kisah Misteri Gunung Mujarrob


Kitab Mantra - Cerita Misteri - Gunung Mujarrob adalah menyimpan banyak misteri karena gunung ini dikenal hanya oleh para Wali khususnya di Indonesia. Jika gunung mujarrob memunculkan sinar terang benderang itu artinya sebagai pertanda lahirnya sosok waliyulloh juru penyelamat di bumi tanah Jawa. Konon lebih dari 350 tahun yang lampau gunung ini raib dari pandangan mata manusia biasa, seperti halnya cerita dari kisah perjalanan hidup Habib Muh, Tegal Rejo Magelang Jateng, yang pernah kami ketahui sewaktu masih dipesantrennya pada tahun 1987 lalu.

Beliau bercerita bahwa dirinya pernah masuk kedalam gua Mujarrob atas panggilan yang empunya yaitu, Syeikh Sanusi, disaat beliau kedapatan anugerah di syahid menjadi Waliyulloh Abdal, pada tahun 1982 lalu, dan lewat kisahnya ini yang menyatakan bahwa disaat beliau baru masuk kedalam gua tersebut, beliau langsung disambut oleh ratusan kalajengking yang sangat besar. Masya Alloh!!! Yaitu berkisar 40 cm.

Bukan hanya sebatas itu saja beliau di uji dalam keyakinannya saat berada di dalam gua Mujarrob, beliau juga sempat melihat secara mata telanjang, beberapa ekor ular raksasa yang besarnya melebihi badan mobil siap menghadangnya. Dan ini bersifat riil bukan hanya sekedar fatamorgana dari sifat lelembut atau binatang jejadian yang hanya sekilas pandang. Sebab semua binatang yang telah mendiami gunung tadi telah berusia lebih dari ratusan tahun dan tidak pernah terusik oleh manusi yang berani masuk. Terangnya.

Juga kisah yang pernah dialami oleh Habib Nur Ali yang pernah masuk kedalamnya disaat mendapat panggilan dari Syeikh Sanusi atas pengangkatan dirinya sebagai Waliyulloh bangsa Rijal. Beliau bercerita "Tidak ada syafaat yang lebih besar di seluruh wilayah yang ada di Indonesia ini kecuali goa gunung Mujarrob. Dan tidak ada suatu pengangkatan waliyulloh yang diakui oleh wali lainnya kecuali lewat tangan Syeikh Sanusi sendiri sebagai makom tertinggi yang telah mendapatkan kefadholan dari Alloh SWT, dengan diberikannya umur panjang sampai hari kiamat tiba karena kemustajabahan air mujarrob yang dimilikinya dan tidak ada satupun wali di dunia ini yang tidak butuh rohmatnya, karena sesungguhnya beliau tercipta sebagai raja dari semua waliyulloh"

"Jangan sesekali masuk kedalamnya sebelum yang empunya datang sendiri memanggil anda, sebab lebih dari seabad yang lalu para manusia yang mengaku dirinya ahli bathin tinggi, lebih dari 77 orang telah raib dan tidak bisa diketahui jasad dan rimbanya". Lanjutnya

Dari beberapa kisah yang pernah dituturkan oleh para masyaikh ini membuat siapapun yang mendengar akan bergidik dan berfikir seratus kali untuk bisa masuk kedalam gua Gunung Mujarrob yang penuh akan karomah juga sebaliknya penuh misteri yang sangat mengerikan.

Mungkin pembaca sekalian masih bertanya dengan kisah ini, sebenarnya dimana letak sesungguhnya gua Gunung Mujarrob tersebut? Menurut cerita para masyaikh tadi bahwa, gunung Mujarrob ini terletak disalah satu areal pesarean Ki Muhyi Pamijahan, Tasik, Jawa Barat yang sangat kondang akan derajat kewaliyan nya dan banyak diziarohi oleh berbagai lapisan masyarakat lokal maupun dari manca negara.
Namun bila anda pernah datang kesana dan membeli buku sejarah yang banyak dijual bebas di sepanjang toko kaki lima seputar areal pesarean Ki Muhyi Pamijahan, dengan judul bukunya " Sejarah perjuangan Syeikh Haji Abdul Muhyi Waliyulloh Pamijahan" yang di tulis oleh, Drs, H. AA. Khaerussalam, disitu tidak dituliskan sama sekali tentang letak gua gunung Mujarrob yang membawa banyak rohmat dan maghfiroh untuk seluruh pengangkatan waliyulloh sedunia.

Mungkin bisa jadi mereka memandangnya tidak perlu membesarkan nama dan letak gua Mujarrob, yang dianggapnya tidak menguntungkan sama sekali dari pihak peziarah/ tidak bisa di komersilkan, alasannya keluarga mereka juga tidak ada yang berani sampai masuk kedalamnya, sehingga dengan ini pula para keturunannya tidak sampai mencantumkan perihal gua gunung Mujarrob yang sebenarnya.

Nah, dari kisah ini pula diawal bulan Syawal 1429,H, lalu, guruku mengundangku yang intinya menyuruh Saya datang ke gua gunung Mujarrob, karena sebuah panggilan darinya (Syeikh Sanusi). Seperti hallintar menyambar disiang bolong, hatiku kaget dan langsung bergetar keras mendengar apa yang barusan di ucapkan oleh guruku tadi, siapa yang tidak takut dengan nama gua gunung Mujarrob yang penuh dengan kengerian dan fenomena gaib yang bisa membawa badan kita seketika raib disaat baru masuk kedalamnya.

Namun sepertinya guruku tidak mau ambil pusing dan mengharuskan aku secepatnya datang kesana. "Ini perintahnya dan bukan kamu yang pinta, lakukan apa yang aku ucapkan" kata sang guru dengan tegas. Sepulang dari kediaman sang guru hatiku terus bergemuruh antara siap dan tidak, untuk sampai bisa melaksanakan datang ke gua gunung Mujarrob dan mulai hari itu pula aku diwajibkan puasa sampai hatiku benar benar merasa tenang dan siap dengan segala keyakinannya untuk sampai datang ke gua gunung Mujarrob.

Setengah bulan telah berlalu, hatiku semakin mantap untuk sesegera mungkin melaksanakan tugas mulia yang di embankan oleh sang guru, dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi akupun langsung pamit minta restunya. Namun sebelum keberangkatanku ke gunung gua Mujarrob, guruku langsung mengijazahkan amaliyah khususiah yaitu berupa, HIZIB JABARUT Dan ULUHIYYAH, " Bawalah santrimu yang banyak untuk mendampingimu sampai tujuan dan pilihlah mereka yang hatinya telah memahami keikhlasan" dan setelah itu beliau juga memberikan beberapa tata cara dan kunci disaat akan masuk ke gua gunung Mujarrob, yang intinya agar selamat dari segala binatang buas dan bangsa lelembut yang sengaja menghadang dan menyesatkan perjalanan mulia ini.

Selepas dari sang guru, aku langsung mengumpulkan beberapa teman Jam’ul Ijazah yang akan mendampingi pemberangkatanku nanti dan ternyata tidak semua Jam’ul Ijazah masuk dalam kategori yang aku inginkan, sehingga waktu itu hanya 15 orang saja yang aku bawa ikut serta. Singkat cerita, sampailah kita semua didepan pintu gua gunung Mujarrob, lewat panduan dari salah satu kepercayaan santri sang guru. Ternyata apa yang aku takutkan selama ini tidak sampai terjadi, sebab gua yang semestinya gelap gulita itu ternyata terang benderang karena ternyata didalamnya sudah lebih dulu ada dua orang sebelum golongan kita datang, dua orang ini berbadan tinggi besar dan sepertinya bukan dari bangsa kita, keduanya memakai pakaian dan sorban serba putih yang disaat kita masuk keduanya menutup wajahnya dengan sorban yang dipakainya. Nah, dari sorban merekalah cahaya terang benderang itu berasal, sehingga dengan pancaran sinar yang teramat terang ini kita semua akhirnya bisa melihat seisi ruangan gua yang ternyata semuanya terbuat dari marmer asli.

Namun sebelumnya, aku mohon maaf kepada pembaca sekalian, karena tidak bisa menceritakan secara keseluruhan apa yang terjadi didalam gua tersebut sebab bersifat sirri/ rahasia, hanya saja di dalam gua tersebut banyak fenomena dan keganjilan yang tidak masuk diakal yang kami rasakan secara nyata, sehingga semua yang ikut serta masuk ikut pula menyaksikannya secara takjub dan ajib yang mungkin menurut mereka tidak bisa hilang dari ingatannya selama umur masih dikandung badan.

Kami lanjutkan lagi ke cerita seputar dunia mistik yang aku peroleh. Lewat panduan sang guru yang telah diajarkan padaku, alhamdulillah akhirnya kita semua selamat dan bisa pulang kembali tanpa sedikitpun ada kendala, walau dalam perjuangan yang sebenarnya penuh haru dan tangisan bahagia yang tidak bisa dilukiskan oleh bentuk apapun juga. Dari kisah inilah alhamdulillah aku sempat bertemu dengan sosok yang selama ini kami cari dan sempat pula mencium tangannya, yaitu, Sulthonul Bahri/ penjaga laut sedunia, Nabiyulloh Hidir AS, dan demi tulisan ini pula kami sempatkan untuk berkata, Demi Alloh, demi Alloh, demi Alloh, apa yang aku dapatkan selama ini adalah barang terbaik yang aku miliki, yaitu, mustika HUT Nabiyulloh Yunus As,/ mustika ikan hutt sewaktu Nabiyulloh Yunus As, dalam perut ikan hutt selama 41 hari lamanya( secara hikayat yang tercantum dalam Al Quran/ tafsirnya).

Sebelum sampai di penghujung cerita, saya atas nama pribadi mohon maaf yang sebesarnya apabila ulasan ini terlalu fulgar dan sangat transparan. Bukan maksud menggurui siapapun, kami hanya ingin menceritakan yang sebenarnya atas apa yang pernah aku peroleh sewaktu datang kedalam gua gunung Mujarrob yang sangat membawa pengaruh besar bagi umat manusia, wabil khusus tentang perputaran zaman yang selalu ditandai beragam fenomena langka yang selalu diawali dari karomah gunung Mujarrob.

Tentunya bagi para ahlillah dan ahli bathin khosois lainya, tidak ada yang tidak paham tentang siapa jati diri, Syeikh Sanusi sesungguhnya dan apa pula yang dimaksud dari maul Mujarrob yang disebut sebagai keluhuran derajat seluruh desa Pamijahan, juga bagaimana Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani, sampai bisa datang dari negaranya, Bagdad, hanya sekedar ingin disyahkan derajat kewaliyannya, sehingga beliau mau sampai berlama menetap di daerah Pamijahan sebagai muridnya.

Kini koleksi dari Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani, masih bisa anda nikmati disalah satu areal Pamijahan, yaitu gua Safar Wadi, yang telah dibuatnya sendiri, bahkan dalam sejarah Wali Songo gua ini sempat dijadikan tempat bermusyawarohnya para waliyulloh. Semoga kisah ini membawa rohmat bagi para pemimpin bangsa dan selebihnya untuk keselamatan seluruh umat pada umumnya.

Bagi yang penasaran dengan letak gua gunung Mujarrob yang konon tidak ada dalam daftar peta maupun buku panduan, Saya akan sedikit memberi jalan kepada anda sekalian. Apabila anda sudah pernah ke gua Safar Wadi, tentunya anda juga tahu betul akan jalan lurus yang sebelumnya belok ke kanan sebelum arah menuju gua Safar Wadi. Nah, kalau gua gunung Mujarrob sendiri belok ke kiri dan berlawanan arah dengan jalan menuju gua Safar wadi, yaitu naik ke atas bukit lewat jalan setapak yang sama sekali tidak pernah dijamah oleh kaki manusia.

Apabila kita sudah sampai kesebuah bukit paling atas, berputarlah kearah kanan dan nanti disitu ada sebuah jurang yang sangat dalam, masuklah dengan jalan agak merangkak karena sangat licin dan juga terjal, turunlah sampai mentok kesebuah cadas berair, disitu anda bisa melihatnya secara jelas sebuah mulut gua kecil yang bila anda melihat kedalamnya tidak akan tembus pandang karena terlalu gelap. Berhati hatilah bagi yang kurang persiapan mental, karena anda akan di sambut saat akan masuk gua oleh beberapa kalajengking raksasa dengan panjang berkisar antara 30 sampai 40 cm.

Kisah Cinta Dengan Arwah Gentayangan

Kitab Mantra - Cerita Misteri - Cinta memang buta. Sampai-sampai tidak tahu jika pasangan yang diajaknya bercinta itu adalah arwah yang mati penasaran. Cerita ini dialami seorang pemuda yang tinggal di Klaten, dia menjalani percintaan dengan seorang gadis yang bertahi lalat di pipi kiri.

Gadis yang sekarang ada dalam bayangannya itu mengaku bernama Riana, tinggal tidak jauh dari rumah Deny yang baru. Cerita ini sendiri dialami ketika Deny bersama keluarganya pindah ke rumah yang baru, jaraknya sekitar 25 km dari arah Klaten.
Karena ada tugas baru di sebuah kecamatan, keluarga besar mereka terpaksa pindah di sebuah desa yang cukup terpencil. Semula Deny merasa kesepian, tidak ada teman yang bisa diajak berbincang. Di lingkungan barunya dia masih merasa asing.

Sampai suatu malam sewaktu datang dari kota, Deny melihat seorang gadis yang tampaknya kemalaman. Dia berdiri sendirian di pinggir jalan, tidak jauh dari desanya. Setelah dipapas dengan sepeda motor yang dikendarainya, gadis itu mengaku berasal dari desa yang sama dengan Deny.

Karena tidak keberatan pulang bersama-sama, mereka berdua akhirnya berboncengan. Sepanjang perjalanan keduanya saling bertanya tentang asal-usul masing-masing, terutama alamat dan rumahnya. Hanya saja, Riana tidak begitu jelas memberikan alamat rumahnya, dia bilang tidak jauh dari rumah Deny.

Sewaktu keduanya berpisah di sebuah gang yang tidak seberapa lebar, dalam batin Deny mengagumi kecantikan Riana. Apalagi, setelah diteliti secara seksama, dia malah terkesima menyaksikan tahi lalat kecil bertengger di pipi kirinya. "Ah, sungguh luar biasa manisnya gadis licah ini," pikir Deny.

Diam-diam dalam hati Deny menanam harapan cintanya pada Riana. Dia benar-benar telah jatuh cinta ! Hingga suatu malam keduanya bertemu lagi di sebuah poskampling. Kesempatan itu tidak sedikitpun diluangkan Deny untuk dapat mengungkap isi hati Riana. Sampai satu penuturan sulit dipercaya meluncur dari bibir Riana.

"Aku sejak bertemu sebenarnya ingin mengatakan kalau sudah kenal sejak mas Deny datang ke desa ini. Cuma aku enggak berani aja untuk mendekati mas," tuturnya dengan manja. Penuturan itu sebenarnya membuat Deny bingung, karena merasa belum pernah mengenal Riana. Tapi bagaimana dia bisa mengenalnya lebih dulu?

"Ah, biarin aja. Mungkin dia sudah lama mengidolakan saya," batin Deny jadi ‘gede rumangsa’. Tak terasa malam semakin larut, Riana buru-buru meminta untuk diantar pulang. Deny sendiri jadi kebingungan sebab belum pernah diberitahu alamat rumahnya. Riana selalu bilang dekat rumah Deny. Tapi sebelah mana? "Itu lho yang dekat dengan rumah sebelah mas. Pokoknya disekitar situ. Nanti mas nganternya sampai rumah sebelah saja ya," ujar Riana.

Tapi Maya hanya tersenyum saja melihat aku kebingungan dengan tingkahnya hari ini, dan yang lebih membingungkan lagi ketika aku sadar ternyata selama ini aku belum pernah tau di mana Maya tinggal. Yang aku tau Maya tinggal 100 meter dari sekolahku, entah mengapa jika aku bertanya dan ingin ke rumahnya, Maya selalu menolak dan langsung mengalihkan pembicaraan. Kalo sudah begitu aku cuma bisa diam dan tak bisa berkata apa-apa lagi.

Suatu hari pamanku datang dan semenjak itu aku tau siapa Maya sebenarnya. Pagi itu paman datang dengan membawa suatu barang yang entah kami sekeluarga tidak mengetahui apa maksud semua itu. Tak berapa lama paman berbincang-bincang dengan ayah dan ibu di teras depan. Entah apa yang dibicarakan dan aku mungkin tak terlalu ambil pusing, sampai tiba-tiba aku dipanggil bik Sumi, katanya aku dipanggil ayah dan ibuku.

Setelah aku mendekat, entah bagaimana tiba-tiba aku melihat ibu sedang menangis dan ayah terlihat pucat sekali, ketika itu aku juga melihat paman memandangku dengan pandangan yang tajam sekali. Semua itu membuat aku semakin bingung saja dan ketika aku bertanya apa yang terjadi, malahan ibu semakin menangis dan menangis, membuat aku semakin tak mengerti. Sampai pamanku akhirnya mengatakan sesuatu yang diluar masuk di akal sehat, "Ron, apakah kamu akhir-akhir ini merasakan hal yang aneh dan menyeramkan ?" ditanya seperti itu aku makin bingung.

"Tidak, aku tidak pernah merasakan apa yang paman katakan tadi ?" aku lihat paman sedikit pucat dan entah mengapa tiba-tiba paman membaca suatu ayat Al-Quran yang entah surat apa, semua itu membuat aku jadi bertanya-tanya. Setelah selesai paman berkata "Ron, apa kamu kenal dengan gadis yang bernama Maya ?" tersentak aku dibuatnya, mengapa paman kenal dengan Maya dan bagaima paman mengenalnya. Mungkin paman tau apa yang aku pikirkan, dan langsung menjelaskan mengapa paman kenal dengan maya.

Ternyata Maya adalah anak dari pembantu paman yang meninggal 8 tahun yang lalu karena bunuh diri dengan menggantung dirinya sendiri di pohon mangga di depan rumahku. Bagai disambar petir aku menolak mengakuinya, mungkin saja Maya yang paman maksud bukan Maya yang aku cintai selama ini. Tapi setelah paman menyebutkan ciri-cirinya, maka baru aku percaya, memang Maya itu yang telah lama aku cintai dan menjadi pacarku selama ini.

Kemudian paman memberikan aku sebuah tulisan Arab yang entah apa maksudnya dan artinya, tapi karena ibu yang menyuruh aku menerimanya maka aku terima. Entah mengapa aku jadi takut untuk bertemu Maya lagi, dan aku baru sadar dengan tingkah aneh yang dilakukan Maya kemarin malam.

Semenjak aku menyimpan kertas pemberian paman, Maya tak pernah datang dan aku juga tak pernah melihatnya lagi, entah dia sudah menghilang atau takut, sampai suatu hari aku menerima sepucuk surat dengan tidak disertai nama pada amplopnya.

Setelah membaca surat dari maya itu aku tak sadarkan diri, entah aku harus bagaimana apakah aku harus sedih atau senang… aku tak tahu.
Sampai sekarangpun kejadian ini terus terbayang.

(by Adi M)

Senin, 29 April 2013

Misteri Pesugihan Omyang Jimbe


Kitab Mantra - Cerita Misteri - Namaku Yogi, sebut saja begitu, umurku 52 tahun. Aku tinggal di sebuah perumahan di Jakarta Selatan bersama isteri dan dua orang putraku. Sampai penghujung tahun 2007, rumah tanggaku tak menemui masalah yang berarti. Kami hidup rukun dengan segala kebutuhan rumah tangga yang selalu bisa aku penuhi. Dua orang putraku pun bisa bersekolah dengan layak, salah satunya sudah duduk dibangku perguruan tinggi dan adiknya masih di bangku SLTP.

Tapi suatu ketika musibah datang beruntun dan langsung membuatku ambruk hingga tenggelam ke dasar lumpur kenistaan. Padahal baru saja dua bulan aku mengambil kredit di sebuah bank swasta nasional yang nilainya 700 juta rupiah. Untuk mendapatkan kredit sebesar itu, aku mengagunkan rumah yang aku tempati bersama isteri dan anak-anakku. Uang sejumlah itu aku gunakan untuk modal usaha karena aku sudah lama mendapatkan klien dari Singapura mengirim hiasan rumah tradisional.

Seperti disambar petir di siang bolong, hari itu aku mendapat kabar bahwa barang yang kupesan dari para pengrajin di Tasikmalaya tidak bisa dikirimkan. Alasan mereka belum mendapatkan bayaran sejak 3 bulan lalu. Para pengrajin itu menuntut pembayaran semua barang yang mereka kirim senilai hampir setengah milyar. Padahal aku sudah membayarkan semua hak mereka tanpa ada yang aku tunda-tunda. Pembayaran itu aku lakukan melalui kasir dan orang kepercayaanku.

Tak hanya itu, masalah lain timbul dari klienku yang di Singapura, dia menuntut aku untuk segera mengirimkan barang pesanannya. Panik bukan kepalang, di satu sisi aku harus membayar uang kepada para pengrajin di Tasikmalaya. Di sisi lain aku dituntut untuk mengirim barang ke Singapura atau kontrak yang telah kubangun akan segera diputuskan. Artinya aku akan kehilangan klien sekaligus harus membayar utang yang segunung jumlahnya.

Yah, tentu saja bukan aku tidak berusaha mencari jalan keluar. Aku sudah melaporkan penggelapan uang, penipuan dan korupsi pada Kepolisian. Tapi apa pun itu, tidak membuat usahaku lancar. Aku kehilangan klien karena ulah karyawanku yang membawa kabur uangku. Aku tak tahu ke mana harus mencarinya lagi. Alamat yang ditinggalkannya ketika melamar pekerjaan 4 tahun lalu ternyata palsu. Aku sudah menelusuri semua jejak yang pernah dia tinggalkan, tapi semua nihil.

Singkat cerita, aku benar-benar terpuruk, usahaku hancur dan rumahku disita bank karena aku tak mampu membayar hutang. Aku ngontrak di sebuah rumah petakan di Cinere. Tapi itu belum bisa membuat hidupku tenang. Karena para pengrajin di Tasikmalaya masih terus memburuku karena aku masih mempunyai hutang pada mereka sejumlah hampir 400 juta rupiah. Nyaris setiap hari aku didatangi orang yang menagih hutang ke rumah kontrakanku. Dan hampir setiap jam telepon genggamku berdering oleh orang-orang yang menagih hutang.

Keterpurukanku itu berlangsung hingga tahun 2009. Sepanjang dua tahun, hidupku benar-benar hancur, untuk mencari makan saja aku harus meminta bantuan ke mana-mana. Anak sulungku terpaksa harus berhenti kuliah karena aku tak sanggup lagi membiayainya. Isteriku setiap hari harus ikut mencari nafkah dengan berjualan gorengan dan makanan kecil di depan kontrakan. Sementara hutangku masih menggunung dan aku hanya mampu menjanjikan pada para pengrajin di Tasik, bahwa suatu hari aku pasti akan melunasi semua hutang-hutangku.

Hari itu temanku Haris memperkenalkan aku pada seorang temannya yang bernama Edi. Menurut Haris, temannya yang bernama Edi itu bisa membantu menyelesaikan masalahku dengan kekuatan gaib. Tertarik dengan hal itu, aku mengajak Haris bertemu dengan Edi di suatu tempat di bilangan Bekasi. Dan hari itu pula aku diajak Edi bertemu dengan seorang spiritualis yang bernama Wisnu. Dari mas Wisnu inilah aku diberitahu bahwa aku bisa menggelar sebuah ritual untuk mendapatkan sejumlah uang dari gaib.
Menurut Wisnu, spiritualis yang berusia sekitar 45 tahun itu, ritual menarik uang gaib ini menggunakan kekuatan keris Omyang Jimbe. Sebuah keris keramat yang umurnya sudah ratusan tahun. Di rumah Mas Wisnu, aku diperlihatkan sebuah keris yang di kepalanya berhias dua orang yang nampak sedang semedi. Itulah yang disebut Mpu Omyang Jimbe pembuat keris pusaka yang kekuatan gaibnya bisa digunakan untuk menarik uang dari alam gaib.

Aku semakin antusias karena menurut Mas Wisnu tak perlu tumbal untuk mendapatkan uang dari alam gaib itu. Meski dengan ritual yang teramat sakral tapi gaib penghuni keris itu tidak meminta tumbal pada pelaku ritual. Gaib itu hanya menuntut agar pelaku ritual itu berlaku jujur. Sebab uang yang bisa ditarik dari alam gaib itu hanya boleh dipergunakan untuk membayar hutang atau pelakunya benar-benar dalam keadaan terdesak. Selain itu jumlah uang yang bisa didapatkan pun terbatas sesuai dengan kebutuhan pelaku itu sendiri.

Yah, dengan bermodalkan keyakinan aku menghadap Mas Wisnu untuk mengadakan perjanjian ritual. Aku diminta untuk menyediakan sejumlah sesajian lengkap untuk menggelar ritual itu. Aku harus menyediakan kembang setaman lengkap dengan kemenyan dan uborampe lainnya. Kemudian aku juga diminta untuk menentukan di mana lokasi ritual itu akan digelar. Menurut Mas Wisnu, lokasi ritual itu boleh ditentukan oleh pelaku sendiri. Bisa digelar di tempat keramat atau di mana saja bahkan juga bisa digelar di rumah pelaku sendiri. Tapi karena rumah kontrakkanku terlalu sempit, maka aku memilih menggelar ritual di sebuah tempat keramat di Bogor, Jawa Barat.

Sesuai dengan kesepakatan dan perhitungan primbon Mas Wisnu, siang itu aku berangkat ke rumahnya di Bekasi, Jawa Barat. Hari itu Kamis malam Jumat, berdasarkan perhitungan Mas Wisnu, hari itu adalah hari baik untukku dan keluargaku. Aku berangkat dari rumah Mas Wisnu sekitar pukul 4 sore menuju sebuah tempat keramat di perbatasan antara Jasinga, Bogor dengan Tangerang Banten. Ritual itu sendiri baru akan digelar menjelang tengah malam.

Sesuai perhitungan, kami baru tiba di keramat itu sekitar pukul 8 malam. Setelah meminta ijin pada juru kunci, kami langsung menuju lokasi keramat untuk mengenali situasinya. Ternyata keramat ini memang nampak menyeramkan. Pohon-pohon besar berdiri tegak bagaikan raksasa yang tengah berkacak pinggang. Di bawah pohon-pohon besar itu berdiri sebuah gubuk kecil yang gelap gulita. Hanya ada sebuah lampu minyak yang kadang redup tertiup angin malam.

Beberapa saat aku ngobrol dalam gubuk itu bersama 5 orang yang ikut dalam ritual itu. Aku sendiri ditemani seorang saudaraku yang ingin ikut menyaksikan ritual itu. Selama kami ngobrol, aku merasakan banyak getaran gaib yang menyelimuti tempat keramat itu. Aku yakin tempat itu pasti dihuni oleh banyak makhluk halus yang tak kasat mata. Dan setelah ngalor ngidul kami ngobrol akhirnya waktu yang telah ditentukan untuk menggelar ritual itu pun tiba.

Pukul 11 malam, Mas Wisnu mulai memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan segala sesajian yang kami bawa. Berbagai uborampe digelar dalam cungkup yang luasnya sekitar 10 meter persegi itu. Kembang setaman digelar di atas sehelai kain putih. Perapian mulai dibakar dan sesaat kemudian api mulai menyala membakar arang dalam bokor tembaga. Beberapa batang hio mulai mengepulkan asap yang baunya khas menusuk hidung. Terakhir Mas Wisnu mencabut sebuah keris yang bernama Omyang Jimbe. Keris itu berdiri tegak di atas sehelai kain putih di depan sesajian.
Ritual itu mulai digelar, aku duduk bersila di belakang Mas Wisnu. Berjejer di samping kiriku adalah saudaraku dan seorang anak buah Mas Wisnu. Lalu di samping kananaku dua orang lain yang diajak Mas Wisnu. Segala syarat perlengkapan untuk memanggil kekuatan gaib keris Omyang Jimbe telah siap digelar. Asap hio dan kemenyan pun telah mengepul sejak beberapa menit lalu. Memanggil segala jenis makhluk halus untuk memberi kekuatan pada ritual itu.

Tepat tengah malam, Mas Wisnu mulai membacakan mantera dan jampi-jampi yang aku tak mengerti. Beberapa bait mantera dan jampe-jampe dari bahasa Jawa kuno meluncur dari mulutnya. Sebelum itu Mas Wisnu juga membacakan beberapa Ayat Suci Al Qur’an, maksudnya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan pada para peserta ritual. Sebab menurutnya di tempat seperti itu resiko gangguan makhluk halus pasti sangat besar.

Setelah pembacaan mantera itu selesai, lalu Mas Wisnu memerintahkan seorang asistennya yang masih sangat muda untuk duduk di depan sesajian itu. Sesaat kemudian asisstennya yang masih anak muda itu menutupi sebuah kardus dengan kain putih. Kemudian dia pun membacakan beberapa ayat Suci Al Qur’an sambil duduk bersila di depan sesajian dan kardus itu.

Suasana mulai terasa mencekam manakala anak muda itu usai membacakan manteranya. Bulu kuduku terasa lebih merinding dibandingkan beberapa saat lalu. Aku merasa seperti ada makhluk halus yang tengah memperhatikan gerak-gerikku. Mataku mulai melirik ke kiri dan ke kanan memperhatikan seluruh ruangan cungkup itu. Tapi tak ada apapun di sana, hanya kegelapan malam yang kulihat. Sesekali aku mendengar suara burung hantu dan binatang malam yang membuat suasana makin mengerikan. Aku yakin di situ pasti ada makhluk halus yang tengah memperhatikanku. Aku merasakan itu karena hampir seluruh bulu dalam tubuhku berdiri. Dadaku pun berdebar makin keras. Naluriku memastikan ada makhluk lain yang ikut dalam ritual itu.

Sedang diliputi rasa takut itu, tiba-tiba blaaarrrr. Kardus yang ditutup kain putih itu seperti meledak menimbulkan suara gaduh. Jantungku seperti mau copot, aku kaget bukan kepalang hingga posisi duduku berubah sedikit mundur bahkan nyaris lari lantaran kaget dan rasa takut.
“Tenang-tenang. Tidak ada apa-apa. Itu hanya sebuah pertanda bahwa ritual kita direstui gaib dan kita nyaris berhasil,” ujar Mas Wisnu manakala melihat keadaanku yang sangat ketakutan.
“Tetap konsentrasi dan jangan bertindak yang bukan-bukan,” lanjutnya.

Sesaat kemudian Mas Wisnu mengambil alih ritual dari anak muda itu. Kembali Mas Wisnu membacakan beberapa bait mantera sambil menaburkan kemenyan ke atas bokor yang arangnya masih terlihat membara merah. Tak seorang pun yang berani membuka mulut, suasana makin hening mencekam.
“Nah, ritual ini telah selesai. Mari kita lihat apa yang ada dalam kardus itu,” tiba-tiba Mas Wisnu bersuara sambil menunjuk kardus yang tertutup kain putih.
“Silahkan buka kardus itu, Mas Yogi,” tuturnya sambil menatap ke arahku. “Atau kalau sampeyan takut, biar aku saja yang membukanya,” lanjutnya melihat aku yang nampak ragu dan ketakutan.
“Silahkan, mas saja yang membukanya,” jawabku singkat.

Perlahan Mas Wisnu mulai menyingkap kain putih yang menutupi kardus itu. Dadaku masih berdebar, benakku terus bertanya-tanya apa yang ada dalam kardus kosong itu. Sesekali aku bisa melihat raut wajah Mas Wisnu yang nampak was-was. Entah apa yang ada dalam benak lelaki itu. Tapi sedetik kemudian, raut wajah Mas Wisnu nampak berubah. Ada rasa sumringah tatkala dia mulai membuka tutup kardus itu.
“Alhamdulillah, ternyata ritual kita dikabulkan. Silahkan lihat apa isi kardus ini,” tutur Mas Wisnu dengan senyum penuh kebahagiaan.

Dan betapa terkejutnya aku manakala melihat apa yang ada dalam kardus itu. Setumpuk uang pecahan seratus ribuan memenuhi kardus itu. Dengan penuh kebahagiaan dan rasa tak percaya, aku mengambil segepok uang itu. Setelah kuperhatikan, ternyata benar itu adalah uang yang selama ini aku dambakan untuk melunasi hutang-hutangku.
“Ingat Mas Yogi, pertama kali yang sampeyan lakukan dengan uang ini adalah membayar hutang. Jika hutangmu sudah lunas semua, maka sisanya boleh digunakan untuk apapun,” jelas Mas Wisnu mengingatkanku.

Yah, singkat cerita, kami pulang dengan membawa hasil yang kami harapkan. Dengan uang itu aku membayar seluruh hutangku pada para pengrajin di Tasikmalaya. Aku juga melunasi hutang-hutang kecilku pada teman-teman dan tetangga yang telah membantuku. Anehnya uang itu memang hanya cukup untuk membayar hutang. Hanya tersisa tak lebih dari 2 juta saja dari sisa pembayaran hutang-hutangku itu. Tapi syukur, aku bisa melunasi hutang-hutangku meski kini aku harus mulai kembali usahaku dari nol.

(by Iwan)

Selasa, 23 April 2013

Mengenal Mbah Djamal


Assalamu'alaikum... Wrb.
Perkenalkan Nama Saya Rahmat Maulana dan akrab di panggil Mbah Djamal Saya lahir di Aceh tahun 1976 dari keluarga yang cukup sederhana dan hidup di lingkungan muslim yang tergolong fanatik.
Semasa kecil orang menganggap saya kelainan bahkan banyak tetangga atau orang di sekitar saya, saya mengalami kejiwaan.. karena saya sering kali bicara atau berguman sendiri.

Jujur pada saat itu saya juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya, kenapa sering sekali saya mendengar bisikan-bisikan dan terkadang seperti ada suara yang mengajak saya bicara.

Sekitar usia 10 tahun ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) saya pindah ke daerah Pasuruhan Jawa Timur karena pekerjaan orang tua.
Di pasuruhan saya tinggal di daerah lingkungan Pondok Pesantren, Tetapi mungkin saya tergolong orang yang lambat dalam menerima pelajaran, saya ketinggalan jauh dengan teman sepantaran saya dalam hal membaca Al-Qur'an tetapi anehnya Pengasuh Pondok pesantren di tempat saya belajar begitu menyukai saya.. beliau bilang "Koe Duwe Keluwihan lee..." (Kamu punya kelebihan nak) tetapi saya tidak tahu kelebihan saya dimana? sedangkan orang melihat saya seperti orang gila.

Singkat cerita ketika saya sudah duduk di SMP kelas 2 keluarga saya ada hajatan saudara di daerah Ngawi,  dengan pakde saya di ajak main di Hutan yang di kenal sebagai Alas Ketonggo saya ikut saja, disitu pengelihatan saya tertarik sesosok Nenek yang mengenakan kebaya dan jarik batik sedang duduk di sebonggkah batu besar layaknya seorang sedang melakukan semedi atau meditasi.

Setelah cukup lama saya melihat dan mengamati sang nenek, tiba-tiba sang nenek memanggil saya yang cukup jauh dari tempat nenek duduk, reflex juga saya mengikuti isarat nenek untuk datang menghampiri.. "Jenengmu sopo nggeeer..." (Namamu siapa nak?) tanya nenek, "Rahmat Mbbaah.." jawabku, diketahui Namanya Mbah Parmi dalam kesehariaannya dia seorang dukun pijat di daerah Mojokerto usianya sekitar 70 lebih. "Kowe tak enten-enteni lee.."(Kamu saya tunggu-tunggu) celetuk Mbah Parmi.. saya kaget padahal baru pertama kali saya bertemu dia.

Mbah Parmi menceritakan banyak hal kepada saya, Dia diberi amanah oleh seseorang yang tak mau menyebutkan namanya untuk menyampaikan atau menjawab semua rasa penasaran saya kenapa sering ada suara-suara yang datang di telinga saya.  dan mewariskan ilmu Islam kejawen yang dia miliki kepada saya.

Hingga sekarang saya masih sering bertemu ditempat yang sama Alas Ketonggo setiap Jum'at Legi sesuai kesepakatan yang kami buat dan hingga sekarang sudah 30 tahun lebih, dan perkiraan usia Mbah Parmi 100 tahun lebih masih tampak seperti saat pertama kali bertemu. Mbah Parmi juga menjalankan Shalat berjamaah dengan saya sebagai bentuk kwajiban kita terhadap Sang Penguasa Alam (TUHAN).

Banyak pelajaran atau petuah yang saya dapat dari Mbah Parmi dari A sampai Z, dari Alam Dunia sampai pada kehidupan Alam Gaib, semua ajaran tidak ada yang menyimpang dari ajaran Islam bahkan semua berkaitan. Dari sinilah saya belajar banyak menjadi manusia yang seharusnya berbagi dan saling menyayangi dengan semua mahkluk di jagat raya ini. Tidak menyarankan utuk berbuat sombong kepada sesama bahkan lebih ke rendahdiri dan saling menghargai.

Saya Juga Mendirikan sebuah perguruan Kebatinan dengan nama JATI ROGO agar apa yang saya dapatkan tetap dilestarikan, namun murid saya terbatas hanya 9 orang yang saya pilih dari berbagai daerah. Sama seperti apa yang Mbah Parmi lakukan kepada saya, hanya pada hari tertentu kita bertemu dan belajar mengurai kehidupan.

Inilah Sekelumit cerita singkat tentang perjalanan hidup saya, yang hingga sampai sekarang terus belajar memahami dan menguraikan tentang makna hidup sebenarnya dari sudut pandang yang mungkin berbeda dan cara yang berbeda pula.

Dunia alam gaib merupakan realitas yang sulit dibuktikan secara ilmiah, tapi sulit dipungkiri keberadaannya. Di dalam Islam dunia alam gaib merupakan bagian dari keyakinan. Namun demikian, bukan berarti masalah alam gaib sudah final dan tak boleh diperbincangkan.

Website Kitab Mantra ini hadir tidak sekadar mengupas tentang ada tidaknya alam gaib. Akan tetapi telah sampai pada sebuah pembuktian; sah tidaknya alam gaib dijadikan dasar atau alasan (hujah) bagi produk hukum Islam. Seperti Mantra, Do'a dan Ritual Gaib - sebagai bagian dari alam gaib - dikupas dari sudut pandang Umum dengan bahasa yang mudah dicerna.

Saya sadar "Jimat, mantra, ramalan,ritual dan yang terkait dengan alam gaib adalah kemungkaran, kecuali yang berasal dari Al-Quran atau sunah Rasulullah." Tetapi apa yang saya sampaikan dan saya tuangkan dalam tiap postingan adalah wawasan tentang khasanah Ilmu Warisan Leluhur, dan saya tidak menganjurkan untuk melakukannya.

Saya juga membuka diri untuk berdiskusi atau berkonsultasi seputar masalah kehidupan dan lain-lain, saya hanyalah ingin memanfaatkan apa yang sudah saya dapat untuk sebisanya membantu dan mengamalkan ilmu titipan ini agar berguna untuk sesama.
YM di : kitabmantra@yahoo.com

Demikian Sekilas penyampaian dari saya, tidak mengurangi rasa hormat saya kepada kedua Orang Tua saya, Guru saya, Para Ulama, Para Sesepuh, Para Guru Besar, Para Sesepuh Spiritual dan juga Para Pembaca yang budiman.. Sebagai Manusia Biasa yang tak pernah luput dari kesalahan Saya memohon maaf apabila ada kesalahannya. "Terimakasih.

wa'alaikum salam... Wrb.

Jumat, 12 April 2013

Cerita Hantu Perempuan yang Mengungkap Pembunuhan Dirinya

Kitab Mantra - Cerita Misteri - Pada sore bulan Januari 1897, Erasmus Shue alias Edward, seorang pandai besi, menyuruh anak laki-laki tetangganya menemui Elva, istri yang telah ia nikahi selama tiga bulan.

Siapa tahu sang istri butuh sesuatu dari pasar. Tapi ketika anak laki-laki itu berjalan melalui pintu depan rumah pondok itu, ia menemukan tubuh Elva yang tak bernyawa di kaki tangga.

Anak itu terdiam sesaat, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tubuh wanita itu terentang lurus dengan kaki menyatu. Satu lengannya ada di sisi tubuh dan lengan satunya berada di dada. Kepalanya menghadap ke satu sisi.

Awalnya anak itu mengira Elva sedang tertidur di lantai. Ia melangkah mendekatinya, memanggil pelan, "Mrs. Shue?" Ketika wanita itu tidak merespon, anak itu panik dan berlari keluar rumah. Dia memberitahu ibunya apa yang ia temukan dan sang ibu memanggil dokter dan koroner, George W. Knapp.

Knapp tidak kunjung datang ke ruma Shue hingga hampir sejam. Ketika ia tiba, Shue sudah pulang, membawa jasad istrinya ke kamar tidur, membersihkan dan memakaikan pakaian, dan membaringkannya di tempat tidur.





Dia mempersiapkan jasad istrinya untuk pemakaman dibalut gaun berleher tinggi dengan kerah kaku dan menempatkan selendang untuk menutupi wajahnya.

Knapp hendak memeriksa jasad itu, Shue membuai kepala istrinya dan menangis. Ketika Knapp mencoba memeriksa leher dan kepala Elva, Shue memberontak. Knapp tidak ingin mengganggunya lebih lagi, sehingga ia pun meninggalkannya.

Ia tidak menemukan ada yang salah pada bagian-bagian tubuh yang ia periksa dan juga telah merawat Elva selama beberapa minggu sebelumnya, sehingga ia memutuskan mengubah penyebab kematiannya dari "pingsan berkepanjangan" menjadi "komplikasi masa kehamilan."

Jasad Elva dibawa ke rumah masa kecilnya di Little Sewell Mountain dan dimakamkan. Shue bertingkah aneh selama pemakaman. Ia berjalan di dekat peti mati, melakukan sesuatu pada kepala dan leher Elva.

Ia menutupi kepala istrinya dengan selendang tambahan yang sebenarnya tidak cocok dengan gaun pemakamanannya, tapi Shue berkeras bahwa itu adalah selendang favorit istrinya. Ia juga menyangga kepala mayat istrinya dengan bantal dan kain yang digulung.

Tingkahnya itu sangat aneh, tapi para tamu menganggap itu sebagai bagian dari proses pemakaman. Shue secara umum disukai orang sehingga tak ada yang mencurigainya.



Intuisi sang ibu

Kecuali Mary Jane Heaster, ibu Elva. Dia tidak pernah menyukai Shue, bahkan tanpa bukti apapun, dia yakin bahwa pria itulah yang membunuh putrinya.

Ia berharap Elva bisa memberitahunya apa yang terjadi. Ia kemudian berdoa agar entah bagaimana caranya Elva kembali dari kematian dan mengungkapkan kebenaran tentang kematiannya. Dia berdoa setiap malam selama berminggu-minggu, hingga akhirnya doanya terjawab.

Heaster mengatakan putrinya muncul dalam mimpinya selama empat malam berturut-turut dan bercerita. Awalnya, rohnya muncul sebagai cahaya yang terang, kemudian mengambil bentuk manusia dan membuat ruangan terasa dingin.

Hantu Elva mengaku pada ibunya bahwa Shue telah menyiksanya dengan kejam, dan suatu malam suaminya menyerangnya dalam kemarahan karena dia pikir Elva tidak memasak daging untuk makan malam.

Shue mematahkan lehernya, kata hantu itu sambil memutar kepalanya ke belakang. Kemudian hantu Elva berbalik dan berjalan pergi, menghilang kedalam gelap sambil memandang ibunya.

Heaster pergi ke jaksa penuntut lokal, John Preston untuk meminta kasus itu dibuka lagi. Tidak diketahui apakah Preston memercayai kisah hantu itu atau tidak, tapi Heaster berhasil membujuknya untuk mulai menanyai orang di seluruh kota.

Tetangga-tetangga Shue dan teman-temannya mengatakan tentang kebiasaan aneh lelaki itu saat di pemakaman, dan Dr. Knapp mengakui bahwa pemeriksaannya pada jasad Elva tidak lengkap.

Akhirnya Preston melakukan otopsi secara lengkap, dan beberapa hari kemudian, jasad Elva digali meskipun Shue menyampaikan keberatannya. Knapp dan dua dokter lainnya membaringkan jasad itu di sebuah gedung sekolah untuk dilakukan pengujian.

Koran lokal, The Pocahontas Times, kemudian melaporkan bahwa, "Pada tenggorokan terdapat bekas jari yang mengindikasikan bahwa dia dicekik ... bahwa lehernya bergeser antara tulang belakang pertama dan kedua. Tulang belikat robek dan putus. Batang tenggorokan remuk pada titik di depan leher."

Jelas bahwa kematian Elva tidak alami, tapi tidak ada bukti yang merujuk pada pembunuhnya, dan tidak ada saksi. Tingkah laku aneh Shue sejak kematian Elva melekat di pikiran Preston sehingga ia mulai mencurigai pria itu.

Di saat yang sama, ibu Elva menjelaskan dengan tepat bagaimana putrinya dibunuh sebelum otopsi dilakukan. Mungkin justru dialah pelakunya, dan cerita hantu itu hanya akal-akalan untuk menjebak Shue.


Bukan korban yang pertama

Preston melanjutkan investigasi dan mulai menyelidiki masa lalu Shue. Dia pun mengetahui bahwa Shue pernah menikah dua kali sebelumnya. Yang pertama berakhir dengan perceraian saat Shue dipenjara karena mencuri kuda. Istri pertamanya itu kemudian mengatakan pada polisi bahwa Shue sangatlah kasar dan suka memukulinya.

Pernikahan keduanya berakhir hanya delapan bulan dengan kematian misterius sang istri. Sebelumnya, di penjara, Shue membual bahwa ia akan menikah tuju kali selama hidupnya. Kematian istri keduanya dan sejarah kekerasan Shue memiliki hubungan yang tipis tapi cukup bagi Preston untuk menggiringnya ke pengadilan.

Mary Jane Heaster menjadi saksi jaksa, dan Preston berusaha untuk menghindari bagian tentang hantu putrinya itu, karena akan dianggap sebagai desas-desus belaka.

Untuk membuktikan bahwa dia tidak dapat dipercaya, pengacara Shue menanyakan Heaster secara ekstensif tentang kunjungan hantu putrinya. Taktik itu berhasil, Heaster menolak meragukan laporannya.

Banyak anggota masyarakat yang tampak percaya pada cerita Heaster, dan Shue tidak melakukan apapun untuk membela diri, hanya mengoceh dan meminta para juri "untuk melihat ke wajahnya dan katakan dia bersalah."

Greenbrier Independent melaporkan bahwa pernyataan dan sikapnya tidak membantu membuat para pengunjung sidang bersimpati padanya. Juri berunding hanya selama sejam sepuluh menit sebelum menjatuhkan putusan bersalah.

Shue dihukum penjara seumur hidup, tapi tewas segera setelah terjadi wabah campak dan peneumonia yang menyerang penjara itu dalam musim semi 1900. Ny. Heaster hidup hingga tahun 1916, dan tidak pernah menyangkal cerita tentang hantu Elva.

Penanda sejarah di Greenbrier County dibuat untuk memperingati kematian Elva dan kasus pengadilan yang tidak biasa itu. Menjadi satu-satunya kasus dimana hantu membantu memenjarakan seorang pembunuh.

Kamis, 11 April 2013

Kisah Pramugari Malasia di Tiduri Hantu

Kitab Mantra - Cerita Misteri - Ini adalah kisah nyata yang di alamai seorang Pramugari asal Malaysia, yang bermula dari perceraiannya pada 6 tahun silam. Perceraian tersebut ternyata membuatnya mengalami peristiwa-peristiwa aneh dan menakutkan. Berikut ini kisahnya

Cuaca pada malam itu terasa dingin terasa hingga menusuk tulang. Semua penghuni rumah lantai dua di kota Nilai, Negeri Sembilan itu sudah tidur sewaktu Keena pulang dari tempat kerjanya. Jarum jam di dinding rumahnya sudah menunjukkan pukul 11 malam. Setelah meletakkan tas dan melepas sepatu Pramugari cantik ini langsung ke kamar mandi untuk membersihkan badannya setelah 13 jam berada di dalam pesawat terbang dari London ke Bandara Antarabangsa Kuala Lumpur (KLIA) di Sepang.

Saat menikmati hangatnya air dengan berendam di kamar mandi sambil melepaskan kepenatan yang ada, tiba-tiba pandangan mata Keena terarah kepada sebuah obyek yang melekat pada cermin yang berada di kamar mandinya. Karena terlalu letih Keena hanya berfikir mungkin itu hanya halusinasi saja karena kelelahan yang di alaminya, atau mungkin itu hanya kelelawar yang masuk kedalam kamar mandinya karena tidak lama kemudian obyek tersenut lenyap tak tahu entah kemana.

“Bila diamati betul-betul ia seolah-olah tapak tangan lembaga hitam yang diletakkan pada cermin itu,” tutur Keena, yang usianya sudah menginjak 37 tahun ini.
.
Putus tunanganSejak setahun lalu, ibu single parent ini sudah terbiasa dengan kejadian-kejadian aneh di rumahnya. Rumah tersebut didiami oleh Keena bersama ibu, adik dan seorang anak lelakinya.
Dikatakan oleh Keena, bahkan adik perempuannya pernah melihat sosok makhluk menyerupai kera besar berdiri di atas atap rumahnya. Keena menjelaskan, bahwa sejak bercerai dengan suaminya enam tahun lalu, pada rumah yang didiaminya sering terjadi hal-hal aneh yang membuatnya merasa tidak tentram tinggal dirumah.

Ada saja hal-hal ganjil dan misterius yang dialami oleh Keena, seperti bunyi gaduh hingga terlihat penampakan makhluk hitam berbulu lebat tidur bersamanya

“Lampu terpadam tiba-tiba, bunyi orang sedang berjalan bunyi sesuatu seperti mencakar dinding sudah menjadi hal yang biasa buat saya. Kadang-kadang ada bunyi guli melantun di atas siling.
“Pernah pada saat tidur saya di datangi sesosok makhluk berbulu hitam pekat menindih saya, kemudian tubuh saya merasa digerayangi oleh makhluk tersebut dan saya merasa tidak berdaya dan tidak tahu lagi apa yang kemudian terjadi, setelah sadar saya merasa ada sesuatu yang aneh pada tubuh dan kemaluan saya, sperti orang yang baru saja melakukan persetubuhan. Badan terasa lemah dan perih pada kemaluan.

Pada suatu malam ketika kejadian ini akan berulang kembali dimana makhluk menakutkan tersebut tiba-tiba sudah berada di sebelah saya pada saat saya sedang tidur, saat itu saya menyadarinya sebelum kejadian seperti malam-malam sebelumnya. Saya membaca ayat kursi dan mengumandangkan adzan, makhluk tersebut terlihat kesakitan dan pergi. Namun ketika saya lengah, makhluk tersebut datang kembali dan menindih saya, kejadianyapun seperti hari-hari sebelumnya saya tidak sadar dan setelah sadar badan saya terasa lemas dan kemaluan saya terasa perih seperti orang habis disetubuhi dengan penis yang sangat besar.

Setiap Keena membaca Ayat Kursi dan mengumandangkan adzan terdengar almari yang ada dikamarnya terdengar suara gaduh dan terdengar suara seperti orang kesakitan.
“Bukan itu saja, sejak mengalami gangguan tersebut, emosi saya tidak stabil. Saya menjadi emosional dan mudah marah,” jelas Keena dalam nada sedih pada seorang Waartawan yang mewawancarainya.
Tidak hanaya itu saja selain diganggu oleh bunyi-bunyi aneh dan jelmaan makhluk yang menyeramkan, kehidupan keena juga terasa sial. Setelah bercerai dengan suaminya yang juga seorang pramugara pada tahun 2006, Keena mengalami banyak kegagalan setiap berusaha untuk menjalin rumah tangga lagi.

“Setelah bercerai saya sudah bertunangan sebanyak tiga kali. Setiap menjelang pernikahan, hubungan kami terputus tanpa sebab. Saya baru saja putus dengan tunangan saya, dan dia seorang mualaf.
“Dia tiba-tiba menggagalkan pernikahan dengan saya walaupun hanya tinggal seminggu lagi. Saya bingung, mengapa semua ini terjadi?” kata Keena.

Menyedari keanehakeanehan itu, kemudian Keena mendatangi seorang ustadz untuk mengadukan permasalahan yang dihadapinya, Sang Ustadz-pun bersedia untuk datang kerumahnya untuk membantu mengatasi persoalan yang di hadapinya dengan meruqyah rumahnya.

Keanehan-pun terjadi pada saat Sang Ustadz menuju ke rumah Keena untuk melakukan ruqyah, ditengah perjalanan mobil yang mereka kendarai dihadang oleh seekor ular besar berwarna hitam. Ular tersebut seolah-olah akan menghalangi perjalanan perjalanan Sang Ustadz untuk menuju ke rumahnya.

Seperti dalam adegan dalam sebuah film ular berwarna hitam tersebut berdiri di tengah jalan hingga setinggi mobil yang kami kendarai, namun sesaat kemudian ular tersebut pergi, tak tahu entah kemana

“Anak saya mengatakan bahwa dia seperti sedang menonton acara National Geographic secara langsung. Itulah pertama kali saya melihat ular yang begitu besar,” tutur Keena.

Menurut seorang ahli Ruqyah, Shamsuri Shafei, Keena sebenarnya mengalami gangguan akibat disihir dan diganggu hantu raya.


“Makhluk berbulu yang sering dilihat Keena itu kalau di kampung disebut sebagai Hantu Raya atau mungkin kalau di Indonesia di sebut sebagai Gendruwo. Makhluk ini telah di gunakan oleh para tukang sihir dan orang-orang jahat untuk menghancurkan kehidupan orang lain.

“Dalam diri Keena sendiri terdapat makhluk halus yang bersarang didalam tubuhnya, oleh sebab itu emosi Keena sering terganggu dan tidak stabil, juga terdapat kesan lebam pada tubuhnya,” tutur Shamsuri.
Shamsuri juga menambahkan, yang lebih menakutkan makhluk halus menakutkan dan berbulu lebat setinggi manusia biasa ini jiga sering menyetubuhi manusia.

“Ada seorang korban gangguan hantu raya yang mengaku dia disetubuhi oleh makhluk ini. Biarpun dalam keadaan tidak sadar, tetapi ciri-ciri seperti seseorang yang selesai bersetubuh selalu terdapat pada korban,” tambah Shamsuri.

Baru-baru ini, Shamsuri melakukan proses pengusiran makhluk tersebut dan memagari rumah Keena dengan bacaan ayat-ayat ruqyah.
Setiap sisi rumah Keena dibacakan ayat-ayat suci Al-quran berserta bacaan doa untuk menghalau makhluk ghaib tersebut. Shamsuri menuju sebuah bilik di bagian belakang yang diduganya sebagai tempat hantu raya tersebut kemudia Shamsuri mengumandangkan adzan di tempat yang memang terkesan angker tersebut.
Sebuah peristiwa ganjil terjadi ketika Shamsuri dan tiga orang pembantunya mengumandangkan adzan secara serentak, seorang wartawan yang meliput moment ini terkejut dengan suara yang muncul dari sebuah almari yang terdapat di ruangan ini.

Bunyi jari telunjuk yang mengetuk pintu almari itu bersahutan sebanyak empat kali sebelum kemudian berhenti. Shamsuri menjelaskan, apapila dibacakan ayat-ayat Al-Quran dan Adzan makhluk tersebut akan merasakan tubuhnya terbakar dan kepanasan, makanya terdengar suara sperti mencakar dinding dan suara rintihan seperti orang kesakitan bahkan kadang juga terdengar suara seperti harimau menggeram.

"Tanda-tanda seperti ini akan terdengar setiap saat ketika dilakukan ruqyah, artinya setelah dilakukan prosesi seperti ini semoga makhlik gaib ini tidak akan mengganggu kehidupan Keena lagi" kata Shamsuri.

Tanpa kita sadari memang benar adanya, bahwa sesungguhnya di alam lain disekitar kita terdapat makhluk-makhluk gaib yang kadang mengganggu manusia dengan cara memasuki alam manusia. Tujuannya adalah untuk semakin menyesatkan manusia dengan cara dan tekhnologi mereka. Yang harus kita sadari adalah bahwa apapun sikap setan terhadap manusia baik yang dirasakan sebagai sebuah kebaikan atau kejahatan oleh manusia, tujuan setan adalah untuk menyesatkan manusia.

Cerita ini saya peroleh dari seorang wartawan asal Malaysia yang saya edit ulang bahasanya yang sebelumnya menggunakan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia agar lebih enak dibaca oleh pembaca di Indonesia. Mengenai kebenaran ceritanya hanya Tuhan yang tahu, kita hanya dapat mengambil hikmah dari apapun yang terjadi dimuka bumi ini.

Hantu Perawat (Cerita Misteri Nyata)


Kitab Mantra - Cerita Misteri - Dering jam beker yang terletak di atas meja kamar tidurku berdering. Tanda peringatan bahwa suamiku harus minum obat yang telah diresepkan dokter padanya. Aku selalu tertib merawat suamiku yang berbaring terkena penyakit asma. “Pak, bangun dulu Pak!, obatnya saatnya diminum” pintaku pada suamiku. Aku menjadi kaget, ternyata suamiku tidak sadarkan diri. Jam dua malam itu aku segera membangunkan kedua anakku. “Mas Anto, Dik Ani…. bangun dulu nak, bapak perlu bantuanmu!” . Kedua ankku terus bangun

“Ada apa Ma?” tanya keduanya

“Telponkan petugas ambulance Rumah Sakit Daerah Ponorogo ya!, bapak butuh pertolongan segera”

“Iya Ma” jawab anakku singkat

Aneh!, hanya berselang kurang lebih lima menit mobil yang aku butuhkan itu sudah tiba di depan rumahku. Padahal jarak antara Pulung desaku, dengan RSUD Dr. Hardjono ada kurang lebih dua puluh kilo lebih. Aku terdiam sedikit tercengang. Tapi mau bagaimana lagi, aku disambut dengan ramah oleh dua orang suster dan seorang sopir yang masih muda.

“Mari Bu, silahkan dampingi Bapak di belakang. Infusnya sudah saya pasang. Ibu akan ditemani dua orang suster di belakang”

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, terasa aku melihat yang wajar melihat pemandangan di sepanjang jalan Pulung Ponorogo. Dua orang suster yang menemani aku tercium parfum yang harum sekali. Wajahnya cantik jelita. Rambutnya semampai panjang. “Wah, seandainya dia masih bujang bakal aku jodohkan dengan Anto anakku..” batinku, tapi aku nggak berani mengungkapkan kata-kata padanya.

Tidak beberapa lama aku sudah sampai di ruang UGD. Disana saya segera mengurus administrasi di loket rawat inap. Dua orang suster dan sopirnya mengantar aku di sebuah ruangan yang masih asing bagiku. Kira-kira dari UGD ke arah bagiun timur. Aku melewati lorong-lorong yang ramai. Aku melihat banyak pasien-pasien yang ditunggui oleh kerabatnya. Suamiku segera masuk di ruang yang saya lihat bangunan lama atau bangunan kuno.Sepertinya bangunan rumah sakit peninggalan Belanda. Aku melihat kok ada beberapa dokter berwajah bule di sana. Terus ada beberapa pasukan tentara Belanda yang keluar masuk bangsal. Aku terdiam. Aku cubit kakiku… jangan-jangan aku bukan manusia lagi. Aku terdiam seribu bahasa.

“Bu, silakan masuk , suami ibu sudah berada di kamar Anggrek, dan tas ibu sudah kami simpan di lemari”

“ooh…oh…iya suster” aku terkejut dan terheran-heran….”Padahal tas saya tadi aku cangking, lho kok sudah mereka bawa ya?”

Dalam suasana keheranan yang sangat luar biasa, aku segera memasuki kamar, tempat suamiku dirawat. Aku merasakan kamar yang ditempati suamiku terlihat luas dan bersih. perawat-perawatnya silih berganti berdatangan memberikan perawatan. “Ibu dari Pulung ya?” tanya dokter bule kepada saya. “Ya Dok…” “Suami ibu tidak apa-apa kok. Dan nanti perlu dirawat tiga hari saja kok. Untuk itu saya minta ibu dan keluarga tidak usah keluar dari ruangan ini. Ibu akan dilayani oleh suster semuanya. Makanan dan minuman sudah tinggal ambil, cukup untuk hidup tiga hari…”

Selama tiga hari, kami dimanjakan dengan pelayanan yang sangat istimewa. Suamiku nampak semakin sehat. Demikian juga anak-anakku mereka nampak santai tanpa terlihat beban dari raut wajahnya. “Bu, sudah saatnya ibu bisa pulang. Ini surat rujukan dari dokter, silakan diurus di ruang administrasi” pinta suster jelita yang selama ini merawat suamiku, dan melayani semua kebutuhanku di rumah sakit Dr. Hardjono

“Anto, pergilah ke kantor administrasi di depan sana ya?, habis berapa biaya perawatannya”

“Iya Ma”

Sesampai di depan anakku tekaget-kaget. Semua loket untuk pembayaran administrasi nampak kosong semuanya. Demikian juga, ternyata rumah sakit tersebut sudah tidak ada penghuninya sedikitpun. Di sana ada tulisan ‘ Rumah Sakit Dr. Hardjono sudah pindah sejak September 2012 di Paju Ponorogo, semua layanan Kesehatan dipindahkan di sana!’

Bulu kudukku merinding. Aku dan keluargaku tercengang. Kamar yang tadinya luas dan indah, lengkap dengan fasilitas yang menakjubkan, kini terlihat nyata lengang, kumuh, penuh sarang laba-laba, tidak terawat, dan tanpa perawat.

“Lho ibu dari mana ini?” tanya satpam tiba-tiba

“A…aa..anu Pak, saya rawat inap di Ruang Anggrek!”

Satpam juga tercengang setengah mati. Bulu kuduknya merinding, mulutnya seakan terkunci rapat sulit mengucapkan kata-kata… Aku dan keluarga bergegas, malu. Tapi aku bersyukur karena suamiku terlihat sehat wal afiat. “Ma!, terus siapa ya yang merawat kita tadi?”. “Ah nggak tahu Pa… sudahlah, kita pulang dulu” kataku sambil meninggalkan RSUD Dr Hardjono yang lama.